Dalam dunia pendidikan, kita mengenal pendidikan prasekolah. Yaitu jenjang yang
dipersiapkan untuk anak-anak usia pra sekolah (dibawah usia 5 tahun). Beberapa waktu lalu, muncul diskusi tentang bagaimana seharusnya pendidikan pra sekolah di Malaysia. Menurut sebagian praktisi, pendidikan pra sekolah di Malaysia sepatutnya mengetengahkan satu model sistem pendidikan prasekolah yang berlandaskan Islam. Hal ini seperti dikatakan salah seorang praktisi Wanita JIM, Pertumbuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM) “Sistem yang mempunyai gambaran mendasar, dan mampu melahirkan insan cemerlang, berbudi tinggi dan dapat menciptakan kebaikan masyarakat. Sebab, tujuan pendidikan hari ini adalah membentuk generasi solehah untuk menanamkan nilai kemanusiaan yang mencakup aqidah, akhlak, akal, dan jasmani yang mampu melahirkan insan gemilang”
Dan untuk ini pula, peran orang tua tidak dapat dipisahkan begitu saja. Pertanyaannya, perlukah pendidikan prasekolah diberikan nafas baru? Pendidikan yang bernafaskan keislaman?
Dalam semangat ini, penegasannya adalah bahwa sistem pendidikan prasekolah yang berdasarkan Islam haruslah mampu mengimbangi apa yang diharapkan para orang tua. Pendidikan prasekolah yang berdasarkan ajaran Islam yang merupakan pendidikan yang baik tanpa membebankan orang tua dan mampu mencetak insan kamil.
Diantara beberapa hal usulan yang dirumuskan untuk model pendidikan prasekolah berdasarkan Islam di Malaysia ialah:
1. Pengajaran dari sudut kejiwaan anak-anak; pendidikan prasekolah perlu meletakkan penilaian khusus dan keutamaan terhadap perubahan sikap, tingkah laku dan adab anak-anak. Penilaian yang dibuat oleh pengajar tidak harus sekadar melihat sama kemampuan anak-anak didiknya, tetapi yang utama adalah tidak melakukan pembedaan-pembedaan antara satu dengan lainnya, pun pembedaan sebab jenis kelamin. Dengan demikian anak dapat menunjukkan ‘perubahan’ sikap dan adab seorang yang toleran, seorang yang berani, peramah, positif dan mampu menunjukkan semangat bekerjasama.
2. Mendidik orang tua menjadi pendidik yang berkesan; hal ini dipandang perlu karena justru orang tualah “motor” pertama dalam sebuah pendidikan di keluarga. Dari sini pula pencitraan dibentuk. Pencitraan tentang peran masing-masing individu yang biasanya akan mulai teridentifikasi pertama kali oleh jenis kelaminnya.
3. Meningkatkan mutu pendidik; yaitu dengan memartabatkan sistem latihan yang menyeluruh untuk menjadi guru ‘profesional’ . Dengan itu, guru diharapkan dapat mempunyai pemikiran mantap mengenai pandangan dunia pendidikan Islam dan cara pengendalian pendidikan prasekolah yang terkini dan profesional. Tidak terkecuali juga peningkatan pemahaman bahwa bukan hanya perempuan yang “pantas” menjadi pendidik, alih-alih karena perempuan memang sering dilabelkan sebagai pendidik, tetapi laki-laki memiliki peran yang tidak kecil.
Dikatakan bahwa pendidikan prasekolah di Malaysia “seolah-olah” didedikasikan hanya untuk laki-laki. Laki-laki terbiasa disebut pengusaha sampai kepada pendidik dalam sistem prasekolah. Akibatnya, banyak anak perempuan tidak dapat menikmati alam pembelajaran dengan model yang lebih universal daripada kaum lelaki. Bahkan ada pernyataan bahwa sebab keadaan ini karena ada anggapan bahwa prestasi pencapaian anak-anak perempuan lebih rendah dibanding anak-anak laki-laki. Sseharusnya ada inovasi yang lebih berani lagi dalam model pendidikan prasekolah Islam untuk membebaskan diri daripada pandangan negatif tersebut.
Dalam masyarakat majemuk seperti di Malaysia ini, setiap etnik dan kelompok agama mempunyai sistem pendidikan yang unik bagi mempertahankan identitas dan nilai masing-masing. Islam sepatutnya dapat diketengahkan sebagai satu unsur penting yang menjamin kesejahteraan, kesetaraan dan perpaduan dalam masyarakat seperti ini.
Disadur dari hasil tulisan pakar sakit puan Malaysia wjim@pd.jaring.my. webmaster@jim.org.my